Wednesday, May 8, 2013

Existentialism - Karl Jasper's Existenzphilosophie



Karl Theodor Jaspers (1883-1969) adalah seorang Jerman yang dikenal sebagai salah satu tokoh eksistensialisme yang berpengaruh. Menurut saya, salah satu pemikirannya mengenai Existenz, merupakan sebuah versi rasional dari pemikiran tentang relasi Martin Buber. Disini, saya akan menjelaskan apa itu Existenz, Encompassing, Reason, dan Communication dalam terminologi Jasperian.

Dalam Existenzphilosophie, ia memulai penjelasannya dengan pertanyaan mendasar dari Immanuel Kant mengenai 1.Apa yang bisa aku ketahui ? 2. Apa yang sebaiknya aku lakukan ? 3. Apa yang bisa aku harapkan ? 4. Apakah manusia itu ?. Jaspers mengatakan bahwa dalam masa kini, pertanyaan fundamental tersebut telah lahir kembali dengan bentuk yang telah berubah.[1] Pertanyaan tersebut menjadi 1. Apa itu Science ? 2. Bagaimana communication menjadi mungkin ? 3. Apa itu kebenaran ? 4. Apa itu Manusia ? dan 5. Apa itu yang Transenden ?
Dalam penjelasannya, muncullah term communication, yang ia artikan sebagai sebuah desakan manusia untuk bisa lepas dari loneliness Communication timbul karena 2 dorongan, yaitu kehausan akan pengetahuan, dan hanya sekedar rasa ingin untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ia katakan bahwa pengetahuan atau science hanya akan berarti lewat batas-batas yang menyatukan manusia.[2] Lebih jauh lagi ia nyatakan keheranan akan manusia yang kini menjadi rigid terhadap sebuah rasionalisasi, lewat diskusi atau perdebatan. Padahal menurut Jaspers, communication dapat terjalin lewat pembukaan diri terhadap satu sama lain,yang bertujuan untuk penyibakan total. Communication tidak terjadi, menurut Jaspers, ketika ia amati orang-orang menyepakati sesuatu, namun berdasarkan pertemanan. Ia katakan selanjutnya bahwa tanpa communication itu, self-being tidak akan bisa menjadi real, dan bahwa Ia bisa bebas hanya jika orang lain juga bebas, lewat penyibakan dan pembukaan diri masing-masing. Jika ia tetap terisolasi tanpa melakukan communication, maka ia hanya akan tetap menjadi potentiality, atau hilang menjadi ketiadaan.[3]
Dari penjelasan communication, timbullah term Existenz, sebagai koneskuensi dari sebuah hubungan antara Existenz dengan Transcendent. Existenz ia artikan sebagai subyek, yaitu diri kita sendiri. Existenz memiliki potentiality, yang mana harus ia realisasikan lewat kegiatan communication. Dalam penjelasan Existenz, ia jelaskan bahwa Existenz tidak akan mungkin tanpa adanya Transcendent. Bahwa Transcendent memberikan Existenz kesadarannya akan dirinya.
Keberadaan Existenz, tidak terlepas dari adanya reason. Hubungan keduanya merupakan lebih menyerupai polarisasi. Ia tidak terdapat di dalam satu sama lain, namun menyokong satu sama lain. Polarisasi seperti ini ia gambarkan seperti Filsafat dan Agama, yang mana salah satu dari mereka tidak bisa menjadi superior atas yang lainnya, dan bahwa masing-masing dari mereka membutuhkan satu sama lain.[4] Existenz berperan bagi Reason sebagai sarana untuk beralih dari suatu potensi menjadi aktualisasi. Reason berperan sebagai alat bagi Existenz untuk mencoba mencapai tahap Encompassing, untuk memahami dunia ini, sekaligus di dalamnya, yang Transcendent.
Sementara Encompassing sendiri, merupakan sebuah bentuk kesadaran kita akan being, yang mendasari semua pengetahuan umum dan ilmiah kita, yang memberi makna bagi mitos dan ritual agama. Encompassing tidak dapat dijadikan objek. Kesadaran akan Encompassing hanya bisa dicapai lewat refleksi atas situasi kita. Ketika kita merefleksikan, maka kita akan melihat semua objek yang kita sadari, termasuk yang bersifat religius, merupakan sebuah determinate being di dalam sebuah horizon. Maka kita ini sebenarnya berada dalam horizon. Sangat luas, ia katakan, sehingga Encompassing bukan merujuk pada benda partikular, namun mengekspresikan semua pengetahuan dan pemikiran kita.[5]



[1] Kauffman, Walter.Existensialism From Dostoevsky to Sartre. Hal 139
[2] Ibid. Hal 145
[3] Ibid. Hal 147
[4] Ibid. Hal 152-153
[5] http://www.kevinfinucane.com/university.edu/Jaspers%20Terms2.pdf

No comments:

Post a Comment