Tuesday, March 12, 2013

Eksistensialisme - Kierkegaard - Fear and Trembling


Soren Kierkegaard dalam Fear and Trembling mengemukakan 4 skenario alternatif mengenai cerita tentang Abraham dan Isaac yang kemudian semakin lama ia semakin tidak mengerti bagaimana persisnya perasaan dan pikiran Abraham saat itu ketika ia diuji dengan ujian yang sangat berat
dengan mengorbankan anak yang sangat ia sayangi. Saya sendiri ketika membaca dan mencoba memahami skenario yang ia buat, setuju dengan alasan-alasan kenapa Kierkegaard mencoba untuk membuat alternatif cerita tersebut. Dengan mengasumsikan bahwa Abraham juga seorang manusia, tentunya Kiekegaard merasa bahwa manusia pasti menghadapi semacam fear ketika diuji dengan mengorbankan sesuatu yang ia sayangi. Seperti halnya ketika ia menghadapi fear ketika harus memilih bersama Regine Olsen ataukah tidak, yang pada akhirnya ia memilih tidak. Memang benar Abraham tersebut adalah seorang Nabi, yang notabene memiliki kelebihan daripada manusia biasa karena ia merupakan pilihan dari Tuhan. Namun meskipun ia Nabi, tentunya ia juga memiliki sifat-sifat manusia, yang sama halnya dengan sifat-sifat yang ada pada Kierkegaard.Dengan mengambil asumsi seperti itu, bagi saya cukuplah alasan bagi Kierkegaard untuk terus ingin mengerti bagaimana persisnya kondisi Abraham saat itu, apa yang ia pikirkan sehingga mengambil keputusan yang sedemikian rupa, yang selanjutnya oleh Kierkegaard ciptakan skenario alternatif.
Keempat skenario tersebut menurut saya dibuat berdasarkan segi psikologis. Abraham tentunya tidak memiliki pengetahuan akan future, apakah Tuhan akan menyelamatkan Isaac, ataukah Isaac hanya akan dikurbankan begitu saja. Jika ia tahu bahwa Tuhan akan menyelamatkan Isaac, maka ia tidak perlu merasakan rasa takut dan gentar ketika diuji sedemikian rupa. Dan jika ia tahu bahwa Isaac hanya akan dikurbankan dan tidak diselamatkan, maka tentunya Abraham akan mempertanyakan apa alasan Tuhan menyuruhnya mengorbankan sesuatu yang ia sayangi, yang kemungkinan akan mengakibatkan faith Abraham pudar karena menganggap bahwa Tuhan sangat kejam lantaran mengutusnya demikian.
Skenario yang pertama berbeda dengan ketiga lainnya. Dimana di dalam skenario 2, 3 dan 4 Abraham tidak mengorbankan Isaac, namun dalam skenario pertama ia tetap mengorbankan Isaac namun menutupi kebenaran bahwa yang menginginkan kurban itu adalahTuhan. Ia berbohong pada Isaac bahwa ia adalah ayah yang sama sekali tidak menyayanginya, serta membuat Isaac menganggap ayahnya seorang monster, namun imannya akan tetap teguh pada Tuhan. Skenario ini agaknya dibuat dengan penambahan pengorbanan Abraham yang rela dianggap sebagai ayah yang kejam demi melindungi iman anaknya. Kierkegaard mungkin menambahkan aspek pengorbanan ini karena mungkin ia merasa bahwa akan sungguh sulit dibayangkan apabila Abraham dan Isaac sama-sama mengetahui bahwa itu semua adalah perintah Tuhan. Ia mungkin merasa bahwa kondisi faith yang sangat teguh itu sangat tidak mungkin dengan asumsi bahwa saat itu Isaac masih kecil.
Dengan demikian,saya berpendapat bahwa pantaslah Kierkegaard menganggap bahwa tidak ada yang sehebat Abraham dalam menghadapi ujian tersebut. Seakan-akan Abraham tak dapat dipahami oleh siapapun, bagaimana bisa ia memiliki faith yang begitu besar padahal kepastian tentang masa depan tidak ia ketahui sama sekali.

No comments:

Post a Comment