Wednesday, February 27, 2013

Perubahan Iklim dalam Tinjauan Karl Marx


Perubahan Iklim sebenarnya merupakan fenomena yang menjadi konsekuensi dari tindakan manusia di bumi ini. Namun tidak seperti yang telah dijabarkan dalam berbagai artikel tentang perubahan iklim, kali ini penulis hendak mencoba untuk mengupas isu perubahan iklim serta adaptasi masyarakat dalam tinjauan filosofis menggunakan salah satu dari thesis Karl Marx. Thesis Karl Marx ini berkenaan dengan konsep Infrastruktur ( Basis ) dan Suprastruktur.

Karl Marx berpendapat bahwa segala fenomena di dunia ini dapat digambarkan melalui sebuah skema sederhana. Marx berpendapat bahwa ada dua bagian penting dalam menggambarkan fenomena kehidupan ini. Bagian pertama adalah Infrastruktur ( Basis ), yang merupakan dasar bagi seluruh fenomena yang ada. Basis ini menurut Marx adalah ekonomi. Ia katakan bahwa segala urusan di dunia ini berhubungan dan dikendalikan oleh ekonomi.
Sementara itu, bagian kedua adalah Suprastruktur, yakni bagian yang dibangun di atas Infrastruktur. Artinya, Suprastruktur sangat bergantung pada Basis, yakni Ekonomi. Bidang yang menempati Suprastruktur adalah segala fenomena kecuali ekonomi, seperti politik, agama, sosial, budaya , hukum , seni , dan segala bidang lainnya termasuk bidang lingkungan hidup.

Dapat secara sederhana kita simpulkan bahwa segala urusan di dunia ini selalu menggunakan ekonomi sebagai dasarnya. Tidak hanya identik dengan uang, namun ekonomi adalah persoalan kalkulasi untung dan rugi, yang tentunya dengan proporsi untung yang lebih besar daripada kerugiannya. Secara sederhana pula kita dapat menyebutkan bahwa kita berpolitik, beragama, melakukan sosialisasi, memiliki struktur hukum, menciptakan seni, dan bahkan melakukan aksi-aksi pelestarian lingkungan hidup karena ada urusan mengenai untung dan rugi.

Penulis berpendapat bahwa ada jalinan yang menghubungkan antara urusan ekonomi, bidang lingkungan hidup, serta proses adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim. Pernyataan ini dapat diargumentasikan seperti berikut ini :

  1. Manusia dalam hidup di alam ini, selalu menginginkan kehidupan yang lebih mudah, efisien, serta bermanfaat baginya. Untuk itulah manusia mengeksplorasi alam dan mendayagunakannya seefisien mungkin. Dalam prosesnya, manusia akhirnya mengembangkan teknologi dalam rangka mempermudah segala kegiatan dalam hidupnya. Munculnya berbagai macam teknologi inilah yang nantinya berimbas sangat besar pada perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Munculnya pabrik-pabrik, alat transportasi dengan emisi yang besar, limbah pabrik dan zat kimia, limbah rumah tangga termasuk plastik dan logam, semakin merusak lingkungan tempat kita hidup ini. Namun perkembangan teknologi ini di satu sisi sangat menguntungkan manusia dalam keberlangsungan hidupnya. Dengan kalkulasi untung rugi pula, manusia mengeruk keuntungan yang bisa ia dapatkan dari alam, tanpa memikirkan kerugian jangka panjang ke depannya.
  2. Kerusakan lingkungan yang berujung pada perubahan iklim disebabkan tak lain karena kemunculan berbagai teknologi tersebut. Kini, setelah manusia merasakan sebagian kecil dari dampak kerusakan lingkungan yang mereka buat, manusia kembali menggunakan kalkulasi untung rugi untuk dapat menghindari kerugian besar dari aspek lingkungan, yang notabene kerugian ini mereka buat sendiri. Kini telah muncul berbagai program, aksi, serta teknologi baru yang bernuansa ramah lingkungan. Hal ini tentunya tak lepas dari keinginan manusia untuk tetap hidup senyaman mungkin di alam ini. Karena alam telah mereka rusak dengan berbagai eksploitasinya, muncullah kesadaran akan menjaga lingkungan demi kontinuitas hidup mereka di masa depan. Kesadaran ini tak bisa lepas juga dari prinsip Basis yakni kalkulasi untung rugi ala ekonomi. Manusia sadar bahwa jika mereka terus melakukan tindakan yang tidak ramah lingkungan, maka kehidupan mereka di masa depan akan hancur karena tidak lagi disokong oleh alam. Oleh karena itu mereka melakukan sebuah bentuk investasi jangka panjang dengan bentuk pelestarian alam sebaik mungkin.
  3. Proses adaptasi terhadap perubahan iklim juga dipengaruhi kuat oleh kalkulasi untung rugi. Dari segala macam penghematan teknologi, hampir semuanya adalah karena alasan ekonomis. Penghematan kertas dan tissue misalnya, akan mengurangi biaya pengeluaran kita dalam pembelian produk bersangkutan. Pengalihan surat kertas ke surat elektronik dianggap sebagai suatu penghematan dan konservasi pohon, yang mana merupakan bahan baku pembuatan kertas. Hal yang sama terjadi pada penggunaan sapu tangan yang nantinya berdampak pada pengurangan intensitas penggunaan tissue. Selain mengurangi polutan, kita juga dapat menyelamatkan ratusan pohon di bumi ini. Lebih kentara lagi jika kita alihkan perhatian kita ke proses adaptasi di bidang transportasi. Penggunaan kendaraan pribadi tentunya membutuhkan cost yang lebih banyak dibanding menggunakan kendaraan umum. Selain itu, beragam kampanye untuk menggunakan public transportation dibungkus secara baik dengan dalih akan mengurangi polusi udara dan kemacetan.
Dari argumentasi seperti di atas, penulis berpendapat bahwa memang segala urusan kita dipengaruhi oleh persoalan ekonomi, termasuk di bidang konservasi lingkungan. Hal ini sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar dan manusiawi. Manusiawi memang jika kita mencoba untuk mempertahankan kehidupan nyaman kita. Sesuai pula dengan teori Charles Darwin tentang survivability. Untuk dapat bertahan hidup, kita tentunya membutuhkan alam sebagai sumber kehidupan kita. Dengan telah terjadinya perubahan iklim yang drastis seperti sekarang ini, banyak dari masyarakat kita yang akhirnya memiliki kesadaran bahwa alam ini tidak hanya untuk dieksplorasi, namun juga perlu dijaga kelestariannya. Proses adaptasi terhadap perubahan iklim dan lingkungan ini pun menjadi salah satu usaha cerdas dan berdampak positif bagi kehidupan kita bersama. 

Dalam rangka mempertahankan kehidupan berteknologi yang nyaman ini, tentunya kita wajib menjaga kelestarian alam dan lingkungan ini. Berbagai bencana dan kerusakan alam telah terjadi dalam skala yang relatif besar. Skala ini akan bertambah besar apabila kita tidak melakukan proses adaptasi yang baik dan berkonsepkan ramah lingkungan. Berbagai komunitas peduli lingkungan telah muncul di pelosok dunia, seperti salah satunya adalah Oxfam.

” Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.”

Dengan kemunculan berbagai organisasi yang peduli akan lingkungan dan keberlangsungan hidup di masa depan seperti Oxfam ini, diharapkan masyarakat dunia akan lebih sadar akan pentingnya menjaga alam dan lingkungan mereka ini. Tentunya dengan gerakan yang bersifat global, bumi ini akan terjaga dari kerusakan berlanjut. Namun untuk mencapai gerakan global tersebut, dibutuhkan aksi invididual dari tiap penghuni bumi ini. Oleh karena itu, mulailah menjaga lingkungan dan alam kita dari kerusakan, diawali dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita.






No comments:

Post a Comment